Kritik Penyalahgunaan Kekuasaan: Antara Politik, Agama, dan Harga Diri Kebenaran
Serang,-, 19 Juli 2026 – Penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi baik di ruang publik maupun di bawah nama kesucian, masih menjadi tantangan besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pola penguasaan yang tidak sehat itu sering kali dibungkus dengan narasi yang meyakinkan, padahal tujuannya hanya untuk menjaga kepentingan sekelompok orang saja. Ada tiga pandangan mendalam yang sering disampaikan para pengamat dan pejuang keadilan untuk membuka mata masyarakat atas hal ini: “Politik butuh rakyat bodoh”, “Agama butuh jamaah patuh”, dan “Kebenaran suka memberontak”.
Politik butuh rakyak bodoh
Kalimat ini bukan bermaksud menghina kecerdasan rakyat, melainkan menjadi peringatan keras. Penguasa atau kelompok yang tidak bertanggung jawab akan merasa sangat nyaman dan mudah menguasai jika masyarakat bersikap pasif, tidak kritis, mudah percaya begitu saja tanpa memverifikasi fakta, serta enggan mencari kebenaran yang sesungguhnya.
Ketika masyarakat berhenti bertanya, berhenti membandingkan janji dengan kenyataan, dan hanya menerima apa yang disodorkan dari atas, maka pintu manipulasi, pembodohan, serta penyalahgunaan wewenang akan terbuka lebar. Kebijakan yang merugikan bisa disahkan dengan mudah, kekayaan negara bisa dikuasai segelintir orang, dan suara rakyat perlahan-lahan menjadi tidak berarti lagi. Penguasa yang baik justru sebaliknya: ia akan mendorong rakyatnya untuk cerdas, kritis, dan berani menyampaikan pendapat.
Agama butuh jamaah patuh
Ungkapan ini adalah kritik tajam terhadap mereka yang memanfaatkan nama agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ada pihak yang sengaja menutup ruang diskusi, melarang pertanyaan, dan menuntut kepatuhan mutlak tanpa alasan yang masuk akal, dengan alasan “menjaga kesucian ajaran”.
Padahal, ajaran agama yang sejati justru mengajak manusia untuk berpikir, memahami, dan meneliti apa yang diyakini. Ketika seseorang dilarang bertanya, dilarang memahami makna lebih dalam, dan hanya diminta menurut saja tanpa pertimbangan akal sehat, maka itu bukan lagi pengabdian kepada Tuhan, melainkan penguasaan terhadap manusia. Agama dijadikan tameng agar kekuasaan tidak digugat, sementara jamaah diarahkan untuk tunduk bukan pada kebenaran, melainkan pada perintah pemimpinnya saja.
Kebenaran suka memberontak
Berbeda dengan kekuasaan yang menginginkan ketenangan mutlak demi keuntungannya sendiri, kebenaran memiliki sifat yang berani menampakkan diri meski sering kali tidak dikehendaki. Kebenaran akan mendorong hati dan pikiran manusia untuk bangkit, berpikir kritis, mempertanyakan segala bentuk ketidakadilan, serta menolak segala macam kebohongan dan rekayasa.
Sering kali orang yang membawa kebenaran dianggap mengganggu, dianggap membangkang, bahkan diancam atau dipinggirkan. Namun kebenaran tidak akan pernah musnah hanya karena ia tidak disukai penguasa atau mereka yang berkuasa atas nama agama. Ia akan terus memunculkan bukti, terus memanggil hati nurani, dan terus mengajak manusia untuk tidak diam melihat ketidakadilan.
Pesan untuk masyarakat
Kritik ini mengajak setiap orang untuk tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh kekuasaan mana pun. Jadilah rakyat yang cerdas dalam menilai kebijakan, jadilah orang yang berani memahami ajaran dengan akal sehat, dan jangan pernah takut untuk berpihak pada kebenaran meski jalannya terasa berat.
Kekuasaan yang disalahgunakan hanya akan bertahan selama masyarakat masih memilih untuk diam dan tidak mau mengetahui kebenaran. Saat masyarakat mulai berani bertanya, berani membedakan mana kepentingan umum dan mana kepentingan pribadi, maka manipulasi tidak akan bisa lagi berjalan dengan mudah.
Red:Aspbs
Post a Comment