-->
Search
24 C
en
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
Topik1.Com
Buy template blogger
  • Nasional
  • Polri
  • Hukrim
  • Peristiwa
  • Pedidikan
  • Daerah
  • Politik
  • TNI
  • Wisata
  • Olahraga
  • Nasional
Topik1.Com
Search

Home Suku Semende: Warisan Luhur, Adat dan Prinsip Hidup yang Menjaga Keseimbangan Dunia Akhirat Suku Semende: Warisan Luhur, Adat dan Prinsip Hidup yang Menjaga Keseimbangan Dunia Akhirat

Suku Semende: Warisan Luhur, Adat dan Prinsip Hidup yang Menjaga Keseimbangan Dunia Akhirat

Topik1.Com
Topik1.Com
19 Jul, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
LAMPUNG ,– Di tengah keberagaman suku bangsa yang ada di Indonesia, terdapat satu komunitas yang menyimpan kearifan lokal luar biasa, yaitu Suku Semende. Asal usulnya berasal dari wilayah Sumatera, yang pada masa silam dikenal dengan sebutan daerah Sumbangsel. Kini masyarakat Semende tersebar di berbagai wilayah, salah satunya menetap di Desa Sindang Marga, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, dan tetap teguh menjaga jati diri leluhurnya.
 
Suku Semende memiliki kekayaan budaya yang menyeluruh, mulai dari bahasa daerah, tata cara adat istiadat, kesenian tradisional seperti Kuntau Semende, hingga nilai-nilai kehidupan yang menjadi pedoman tingkah laku sehari-hari. Semua itu tertanam kuat dalam hati sanubari setiap anak cucu Semende sebagai warisan tak ternilai dari para leluhur atau yang mereka sebut dengan sebutan Puyang.
 
 Prinsip hidup dan kearipan luhur masyarakat semende
 
Dalam menjalani kehidupan, masyarakat Semende berpegang teguh pada prinsip dan peribahasa yang menjadi cerminan watak dan budi pekerti mereka. Salah satu ungkapan yang sangat mendalam berbunyi:
 
“Nak nolong mpuk gi pacak, nak ngenjuk mpung giade, nak iluk mpung gi tunggal”
 
Makna yang terkandung di dalamnya adalah ajaran untuk selalu saling membantu sebisa kemampuan, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan senantiasa bersatu padu dalam kebersamaan. Ada pula istilah khas yang menjadi jiwa sosial mereka, yaitu “Beganti Betungguan”. Jika diterjemahkan ke dalam nilai kehidupan, ajaran ini menuntut setiap orang untuk senantiasa saling menolong, saling mendukung, dan berjanji untuk saling menyelamatkan sesama, baik di kehidupan dunia maupun di akhirat kelak.
 
Masyarakat Semende juga hidup dengan pegangan yang tegas: beradat dan juga beragama. Segala aturan yang berlaku di tengah mereka berlandaskan pada keselarasan antara hukum adat, ajaran agama, serta peraturan negara.
 
Pesan luhur dan tokoh semende
 
Salah satu tokoh masyarakat Semende yang tinggal di Desa Sindang Marga, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, yaitu Dulhalim, menyampaikan pemikiran mendalam seiring dengan perubahan zaman yang terus berjalan pesat. Melalui pengalaman panjang perjalanan hidupnya, ia mengingatkan generasi penerus agar tidak pernah melupakan asal-usul.
 
“Kita harus tetap teguh berdiri dan bangga menjadi penerus perjuangan para Puyang kita terdahulu. Mari kita senantiasa bersyukur, karena berkat keteguhan hati para pendiri, para pejuang, dan para pelestari budaya, adat istiadat serta petuah luhur leluhur masih dapat kita nikmati dan kita pegang hingga hari ini,” ujar Dulhalim.
 
Ia menambahkan, seluruh nasihat dan pesan para leluhur itu menjadi landasan dasar yang melekat kuat pada jiwa setiap anak cucu Semende. Oleh sebab itu, kewajiban kita bersama adalah menjaga, merawat, dan melestarikan warisan tersebut agar tidak hilang tergerus waktu.
 
Ada satu pesan bijak yang sangat mendalam dari petuah Semende yang disampaikannya, berbunyi: “Dik tau ngiluki, jangan merusak”. Dalam bahasa Indonesia maknanya adalah: “Apabila kita belum mampu memperbaiki sesuatu menjadi lebih baik, setidaknya kita tidak boleh merusak apa yang sudah ada dan baik itu.”
 
Keselarasan Nilai Adat,Agama dan negara

Selain memegang teguh pesan kehidupan, Suku Semende juga mengenal berbagai pantangan dan aturan yang berlaku. Pada hakikatnya, segala ketentuan yang ada dianggap sah menurut hukum adat, dan juga selaras dengan ajaran agama. Tujuannya hanya satu: membimbing setiap orang Semende untuk menjadi pribadi dan komunitas yang terbaik.
 
“Kita harus tahu apa yang diperintahkan dan tahu apa yang dilarang. Hukum adat kita jalankan, ajaran agama kita taati, dan hukum negara juga kita patuhi. Semua itu kita lakukan semata-mata demi meraih tujuan hidup yang sesungguhnya: mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, ketenangan batin, serta keselamatan yang abadi, baik di dunia maupun di akhirat kelak,” tegas Dulhalim menutup pernyataannya.

Red:Ding Gun
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

- Advertisment -
Ads Single Post 2
Ads Single Post 3
- Advertisment -





Terhubung

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe
pinterest Follow

Berita Utama

Tanggapi Pernyataan Kontroversial, Ketua Umum IWO Indonesia Akan Kirimkan Surat dan Siap Temui Hotman Paris

Topik1.Com- July 19, 2026 0
Tanggapi Pernyataan Kontroversial, Ketua Umum IWO Indonesia Akan Kirimkan Surat dan Siap Temui Hotman Paris
JAKARTA, 19 Juli 2026 – Ikatan Wartawan Online (IWO) Indonesia melalui Ketua Umumnya menyatakan sikap tegas menanggapi pernyataan pengacara kondang…

Berita Terpopuler

Design by - Blogger Templates |

Berita Terpopuler

Topik1.Com

Dikeluarkan

Topik1.com portal berita terkini di Indonesia, menyajikan beragam informasi dari berbagai sektor kehidupan yang disajikan secara sederhana dan mudah dipahami untuk membuka wawasan secara luas.

PT. Tren Multimedia Group

Copyright © 2023 | Topik1.Com
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber