Ketika Isu Sosial Terus Berulang, Publik Tidak Boleh Terbiasa Diam
Sebagai mahasiswa dan bagian dari masyarakat, kita tidak seharusnya terbiasa dengan keadaan yang tidak adil. Ketika kemiskinan dianggap takdir, kekerasan dianggap wajar, dan ketimpangan dianggap risiko pembangunan, di situlah letak masalah sesungguhnya. Bukan hanya pada sistem, tetapi juga pada sikap kita yang perlahan mulai abai.
Banyak isu sosial lahir bukan karena kurangnya aturan, melainkan lemahnya keberpihakan dan pengawasan. Kebijakan sering kali dibuat dari balik meja, jauh dari realitas yang dihadapi masyarakat kecil. Akibatnya, solusi yang dihasilkan tidak menyentuh akar persoalan. Masyarakat diminta sabar, sementara ketidakadilan terus berulang.
Di sisi lain, peran masyarakat—termasuk mahasiswa—sering kali dibatasi hanya sebagai penonton. Padahal, sejarah membuktikan bahwa perubahan besar lahir dari suara publik yang konsisten dan kritis. Media sosial, diskusi publik, hingga tulisan opini adalah ruang yang seharusnya dimanfaatkan untuk menyuarakan kepedulian, bukan sekadar mengikuti tren.
Opini publik memiliki kekuatan. Ketika isu sosial terus disuarakan, pemerintah dan pemangku kebijakan tidak bisa berpura-pura tidak melihat. Diam hanya akan memperpanjang masalah, sedangkan sikap kritis adalah bentuk kepedulian nyata terhadap masa depan bangsa.
Sudah saatnya kita berhenti menganggap isu sosial sebagai rutinitas berita semata. Setiap angka statistik mewakili manusia, setiap kebijakan berdampak pada kehidupan nyata. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, memiliki tanggung jawab moral untuk tetap peduli, bersuara, dan mengawal keadilan sosial.
Karena jika kita memilih diam hari ini, bukan tidak mungkin kita yang akan merasakan dampaknya di kemudian hari.
Red: Syaeful Ma'ruf - Mahasiswa Hukum UNPAM Serang

Post a Comment